Lupakan Dunia dan Berpalinglah pada ASEAN yang Baru ” Bagian 2 “

Lupakan Dunia dan Berpalinglah pada ASEAN yang Baru ” Bagian 2 “

 

Bagaimana dengan ASEAN? Sejarah ASEAN memang tidak bisa lepas dari konteks Asia. Dulu, relasi antara negara-negara Asia sangat terdorong oleh ikatan sosial, politik, dan ekonomi. Pakar ekonomi Jepang Kaname Akatmasu menyebut kekuatan ekonomi Asia dengan formasi “flying geese” atau “angsa-angsa terbang” yang membentuk huruf V. Istilah itu dipopulerkan Akatmasu pada tahun 1930-an dan munculkan lagi pada tahun 1961 melalui bukunya berjudul A Theory of Unbalanced Growth in the World Economy. Di sini, Jepang digambarkan sebagai angsa pemimpin yang terbang paling depan. Jepang diklaim memimpin secara ekonomi dan membelakangi Asia Tenggara, China, dan Asia Selatan yang notabene merupakan kawasan industri Jepang berada.

Sayangnya, pada tahun 1997/1998 gelombang krisis ekonomi menghantam kawasan ini, menciptakan aneka kekisruhan di lini lain, seperti hukum, politik, dan sosial yang ujungnya adalah krisis kepercayaan. Soeharto, misalnya, harus turun dari tahkta kepresidenan karena hantaman krisis tersebut. Perbankan Jepang kolaps. Formasi angsa terbang pun buyar dan akhirnya bubar.

Paska krisis, lanskap geopolitik di Asia pun berubah. Kekuatan ekonomi baru muncul, seperti China dan India di samping Jepang yang terus bangkit. Di sisi regional, negara-negara yang tergabung dalam organisasi ASEAN seperti Indonesia juga mulai bangkit. ASEAN menjadi kawasan perdagangan yang aktif dan solid.

Di tingkat regional Asia Tenggara, beberapa negara ASEAN yang memiliki potensi pasar tersembunyi, seperti Myanmar dan Vietnam, mulai terbuka dan tampil. Dan, negara-negara pendiri ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand mendorong terintegrasinya pasar ASEAN dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang sudah sekian lama berjalan.

Kawasan ASEAN menjadi kekuatan baru. Hermawan Kartajaya dalam The 7th Annual Kellog Innovation Network (KIN) ASEAN Forum 2016 mengatakan Indonesia dan ASEAN bakal menjadi kekuatan penyeimbang di tengah fenomena global yang memiliki tiga kekuatan utama yang meliputi dunia Islam, Barat, dan China.

Kawasan ini tentunya makin mencolok justru ketika pada tahun-tahun ini, Amerika Serikat mencoba berkonsolidasi melalui kempemimpinan Donald Trump dan Eropa yang tergoyang dengan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa. Sementara, negara-negara Asia, khususnya ASEAN, muncul dengan potensi-potensi yang tak bisa dianggap enteng.

Jadi, Anda masih ragu untuk melupakan dunia dan berpaling pada ASEAN yang baru?



Leave a Reply